11 Agustus 2018

Wanita dalam Pergumulan Syariat dan Hukum Konvensional - Pengantar Kuliah

Wanita dalam Pergumulan Syariat dan Hukum Konvensional. Salah satu koleksi buku yang aku beli dari Ustadz Abduh. Buku ini ditulis oleh Dr. Musthafa As-Shiba'i. Dalam Mukaddimah Penulis, beliau mengatakan bahwa buku ini adalah materi kuliah yang beliau sampaikan di Universitas Damaskus antara tahun ajaran 1961/1961. Dalam menulis buku ini posisi beliau layaknya pengacara yang menuntut penegakan kebenaran dan membelanya, karenanya beliau memperbanyak bukti supaya "pengadilan" semakin menerima laporan beliau.

Hal menarik yang aku simpulkan dari Pengantar Kuliah beliau adalah pertama, masalah wanita merupakan masalah setiap masyarakat. Masalah mereka adalah masalah 'perasaan' yang terindah dalam masyarakat, namun yang paling sulit dipecahkan.

Kedua, beliau ada membahas tentang karakter, propaganda, sahabat, sekelompok orang yang disebut "teman-teman wanita" dan musuh. Orang-orang bijak kita tempo dulu berkata, "Temanmu adalah orang yang jujur kepadamu, bukan orang yang [hanya] membenarkanmu."

Terakhir sebagai penutup beliau menuliskan, "Kemuliaan manusia erat kaitannya dengan kebebasannya dalam berpikir dan mengungkapkan pemikiran. Yang menakutkan adalah ketika diam dari kebenaran, berjalan dalam kesalahan dan mengikuti arus".

27 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Hal Hal yang dapat Memperkuat Hafalan dan Melemahkannya

Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan ialah tekun atau rajin belajar, aktif mengurangi makan, salat malam dan membaca Al-Qur'an. Dikatakan, "Tidak ada yang lebih menambah kuatnya hafalan melebihi daripada membaca Al-Qur'an dan melihat pada mushaf." Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., "Amalan umatku adalah membaca Al-Qur'an dengan melihat."

Syaddad bin Hakim pernah mimpi bertemu arwah sebagian temannya yang telah wafat, lalu dia bertanya, "Apakah yang kamu jumpai yang paling berguna?" Temannya menjawab, "Membaca Al-Qur'an dengan melihat."

Santri kalau mengangkat kitab hendaknya membaca doa, "Dengan menyebut nama Allah, Maha Suci Allah. Segala puji hanya bagi Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Luhur dan Agung. Maha Perkasa, Maha Mulia. Sebanyak jumlah huruf yang ditulis dan yang akan ditulis sepanjang masa."

Dan setiap habis salat fardhu hendaknya berdoa, "Aku beriman kepada Allah Yang Maha Tunggal, Maha Esa, Allah Yang Hak tiada sekutu baginya dan aku tidak percaya kepada Tuhan selain Allah."

Santri harus banyak membaca salawat atas Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah sebagai pembawa rahmat kepada alam semesta.

Imam Syafi'i berkata, "Kuadukan buruknya hafalanku kepada Waki'. Lalu beliau menyuruhku meninggalkan maksiat. Sesungguhnya kuatnya hafalan itu merupakan keutamaan yang diberikan oleh Allah, dan kuatnya hafalan itu tidak diberikan kepada orang yang sering berbuat maksiat."

Makan kundar (kemenyan) dicampur madu, dan makan dua puluh satu anggur merah setiap pagi sebelum makan apa-apa, juga dapat menguatkan hafalan, dan dapat menyembuhkan macam-macam penyakit. Dan apa saja yang dapat mengurangi dahak, bisa menguatkan hafalan. Dan apa yang menambah dahak itu menyebabkan lemahnya hafalan.

Adapun yang dapat merusak hafalan adalah banyak berbuat maksiat, banyak dosa, banyak susah, prihatin memikirkan urusan harta, dan terlalu banyak kerja.

Telah disebutkan pada pasal yang lalu bahwa orang yang berilmu tidak perlu pusing dengan urusan dunia. Karena hal itu membahayakan dan tidak berguna. Orang yang cemas dengan urusan dunia biasanya karena hatinya gelap. Orang yang selalu memikirkan urusan akhirat, hatinya bercahaya. Hal itu pengaruhnya akan terlihat di dalam salatnya.

Cemas dengan urusan dunia bisa menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Sedang memikirkan urusan akhirat justru mendorong untuk beramal baik.

Mengerjakan salat dengan khusyu' dan menyibukkan diri untuk mencari ilmu dapat menghilangkan penderitaan dan kesusahan. Sebagaimana dikatakan Syaikh Nashr bin Hasan Al Marghinani kepada dirinya, "Mohonlah pertolongan wahai Nashr bin Hasan, di dalam setiap pengetahuan yang masih tersembunyi, itulah yang dapat mengusir gelisah, sedang selainnya tidak dapat dipercaya."

Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad Nasafi juga mengalunkan beberapa baik syair untuk menyinggung budak Ummu Walad miliknya: "Salam, buat orang yang memikatku dengan kecantikannya, dan mengkilatkan kedua pipinya, serta melirikkan matanya. Aku telah tertawan dan tergoda oleh seorang gadis yang manis. Akal pun bingung untuk mensifati pribadi orang itu. Tapi aku berkata, Tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku. Karena aku telah terbuai atau sibuk menuntut ilmu dan mendalaminya."

Hal-hal yang menyebabkan cepat lupa ialah makan ketumbar basah, makan apel yang kecut, melihat orang yang dipancung, membaca tulisan di kuburan, melewati barisan unta, membuang ketombe hidup di tanah dan catuk (melukai di bagian tengkuk kepala untuk menghilangkan rasa pusing) di bagian liang tengkuk. Maka santri hendaknya meninggalkan semua itu karena bisa menyebabkan lupa.

26 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Sikap Wara' dalam Menuntut Ilmu

Sebagian ulama meriwayatkan sebuah hadis, dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Barangsiapa tidak berlaku wara' ketika belajar ilmu, maka dia akan diuji oleh Allah dengan salah satu dari tiga macam ujian, mati muda, ditempatkan bersama orang-orang bodoh, atau diuji menjadi pelayan pemerintah."

Santri yang bersifat wara' ilmunya lebih bermanfaat. Belajarnya lebih mudah. Termasuk sifat Wara' ialah menghindari rasa kenyang, banyak tidur, dan banyak bicara yang tidak berguna. Hindari makan makanan pasar kalau bisa. Karena makanan pasar itu dekat kepada najis dan kotor, ketika membuatnya jauh dari zikir kepada Allah, lebih dekat kepada kelalaian. Sebab mata orang-orang fakir itu memperhatikan makanan itu tapi mereka tak beruang, dan tidak mampu membeli. Mereka tentu menahan rasa sakit karena tidak terpenuhi keinginannya. Oleh karena itu makanan pasar itu hilang berkahnya.

Diceritakan bahwa Syaikh Al Jail Muhammad bin Fadhal ketika mengaji beliau tidak mau makan makanan pasar. Ayahnya yang tinggal di desa pada suatu hari datang ke tempatnya, pada hari Jumat. Kemudian beliau menyiapkan makanan untuk ayahnya. Ketika ayahnya masuk ke rumahnya, dia melihat ada sepotong roti pasar. Maka ayahnya tak mau berbicara dengannya karena murka.

"Makanan ini bukan saya yang membeli, karena saya tidak menyukainya. Tapi teman saya yang membawakannya" Alasan beliau kepada ayahnya, lalu ayahnya berkata, "Jika kamu mau berhati-hati dan hidup wara' tentu temanmu itu tidak membawa makanan itu."

Begitulah gaya hidup para ulama salaf. Mereka bersikap wara', oleh sebab itu mereka diberi keluasan ilmu dan diberi kekuasaan untuk menyebarkannya, sehingga nama mereka tetap dikenang sampai hari kiamat.

Salah seorang ahli fiqih yang zuhud berpesan kepada seorang pelajar, "Jauhkan diri dari membicarakan orang lain dan dari kumpul-kumpul bersama orang yang banyak bicara."

Beliau berkata pula, "Sungguh orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan membuang-buang waktumu."

Termasuk wara' adalah menyingkir dari orang yang suka berbuat kerusakan dan maksiat serta senang menganggur. Karena bergaul dengan orang seperti itu bisa terpengaruh. Santri hendaknya menghadap kiblat ketika belajar untuk mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan hendaknya ia mengambil manfaat dari doa orang yang ahli berbuat baik dan hendaknya ia menghindari doa orang yang teraniaya.

Dikisahkan bahwa ada dua orang laki-laki pergi mengaji di tempat yang jauh. Kedua orang tersebut menuntut ilmu di tempat yang sama. Mereka selalu mengulang-ulang pelajarannya bersama-sama.

Setelah beberapa tahun mereka kembali ke daerahnya. Tapi yang satu pandai dan yang satunya tidak. Kemudian para ahli fiqih di daerah itu bertanya kepada dua orang itu tentang keberadaannya, cara belajarnya, dan cara duduknya ketika belajar. Lalu para ahli fiiqh itu mendapat berita bahwa orang yang pandai itu, ketika belajar ia menghadap kiblat dan menghadap ke kota dia menimba ilmu. Sedang temannya membelakangi kiblat ketika belajar, dan mukanya berpaling dari arah kota itu.

Maka para ulama dan fuqaha bersepakat bahwa orang yang pandai tersebut karena mendapat berkatnya menghadap kiblat. Karena menghadap kiblat ketika belajar hukumnya sunnah. Dan karena berkat doanya orang-orang Islam yang menghuni kota tersebut. Karena penduduk kota tersebut ahli ibadah, yang selalu mendoakan orang yang belajar ilmu agama di malam hari.

Oleh karena itu, seorang santri tidak boleh meremehkan adab sopan santun dan hal-hal yang hukumnya sunnah. Karena orang yang meremehkan adab, pasti dia terhalang hal-hal yang sunnah. Barangsiapa meremehkan ibadah-ibadah sunnah , maka dia pasti terhalang dari ibadah fardhu. Akibatnya dia bisa meremehkan ibadah fardhu. Dan orang yang meremehkan ibadah fardhu tentu terhalang dari urusan akhirat. Begitu menurut hadis Rasulullah SAW.

Seorang santri harus memperbanyak salat. Harus khusyu' ketika melakukan salat. Karena hal itu dapat membantu memperoleh ilmu dan belajar.

Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad Nasafi, berkata dalam syairnya: "Kamu adalah orang yang menjaga perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Dan orang yang menjaga dan aktif mengerjakan salat. Tuntutlah ilmu agama. Syara'. Giatlah mempelajarinya sambil memohon pertolongan melalui amalan yang baik, niscaya kamu menjadi orang ahli ilmu agama. memohonlah kepada Tuhanmu agar hafalanmu diperlihara dari kelupaan oleh-Nya. Karena kamu orang yang suka akan anugerah-Nya. Allah adalah sebaik-baik Zat yang memelihara."

Beliau juga berkata, "Taatlah kalian kepada Allah dan bersemangatlah, jangan bermalas-malasan. Karena kalian pasti akan kembali kepada-Nya, jangan hanya tidur karena sebaik-baik makhluk adalah orang yang sedikit tidurnya."

Seorang pelajar harus selalu membawa buku setiap waktu, untuk ditelaah. Dikatakan, "Barangsiapa yang tidak ada buku disakunya, maka tidaklah melekat hikmah dalam hatinya."

Pelajar harus mencatat di bukunya apa yang didengar dari gurunya.

5 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Mencari Tambahan Ilmu

Para santri harus menambah ilmu setiap hari agar dapat kemuliaan. Harus selalu membawa buku dan pulpen, untuk menulis ilmu yang bermanfaat yang ia dengar setiap saat. Karena ilmu yang dihafal suatu ketika bisa lupa. Sedang ilmu yang ditulis akan tetap abadi. Ada yang berkata, "Ilmu itu sesuatu yang diambil dari mulut orang-orang pandai karena mereka itu menghafal sebaik-baik yang mereka dengar. Dan mengatakan sebaik-baik yang mereka hafal."

Hilal bin Yasar berkata, bahwa Nabi SAW. pernah bersabda kepada para sahabatnya tentang ilmu dan hikmah. Lalu aku berkata, "Ya Rasul, sudilah tuan mengulangi apa yang tuan katakan kepada kami?" Kemudian Nabi SAW. bersabda, "Apakah kamu membawa tinta?" Aku menjawab, "Saya tidak."

Nabi berkata, "Ya Hilal, janganlah kamu meninggalkan wadah tinta. Karena kebaikan itu ada padanya, dan pada orang yang memilikinya hingga kiamat."

Shadru Syahid Husam berpesan kepada putranya, Syamsuddin, supaya menghafal sedikit ilmu pengetahuan dan hikmah setiap hari. Karena sesuatu yang banyak itu dimulai dari sedikit.

Isham bin yusuf pernah membeli pena seharga satu dinar untuk menulis apa yang ia dengar waktu mengaji. Karena dia sudah tahu bahwa umur manusia itu pendek, sedang ilmu amat banyak.

Oleh karena itu dia tidak mau menyia-nyiakan waktu sesaat pun. Dia gunakan waktu malam untuk mendalami ilmu agama.

Yahya bin Mu'adz Ar-Razi berkata, "Malm itu amat panjang, maka jangan kamu habiskan untuk tidur. Siang hari itu terang benderang, maka jangan kamu redupkan dengan dosa-dosamu."

Santri harus bisa memanfaatkan kesempatan bersama para ulama.Gunakan untuk menimba pengetahuan dari mereka. Karena kesempatan yang baik apabila telah hilang, tidak akan dijumpai lagi, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Syaikhul Islam dalam kitab Masyihatnya, "Banyak sekali guru besar yang luas ilmu dan keutamaannya yang pernah aku jumpai, namun aku tak memperoleh kebaikan dari mereka." Atas keteledoran ini, aku gubah sebuah syair, "Oh.. Sungguh aku menyesal dengan segala penyesalan atas kelengahan. Setiap sesuatu yang telah hilang tak akan bisa dijumpai lagi." Sayidina Ali ra. berkata, "Bila kamu berada dalam satu urusan makan tetaplah di dalamnya. Kehinaan dan kerugian itu akibat berpaling dari ilmu Allah. Maka berlindunglah kepada Allah darinya pada malam dan siang hari."

Para penuntut ilmu harus tahan menanggung penderitaan dan kehinaan ketika mencari ilmu. Tamalluq (mencilat atau mencari muka) itu tercela kecuali dalam urusan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu itu tidak bisa terpisah dari guru, teman-teman belajar, dan sebagainya.

Ada yang berkata, "Ilmu itu luhur; tiada hina padanya. Namun ilmu tak bisa didapat kecuali dengan merendah." Penyair berkata, "Aku tahu kamu bernafsu ingin menjadi orang mulia. Namun kamu tak akan menperoleh kemuliaan selama kamu tidak  menghinakan diri sendiri."

28 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Kasih Sayang dan Nasihat

Orang berilmu harus menyayangi sesama. Senang kalau orang mendapat kebaikan. Tidak iri (hasad). Karena sifat iri itu berbahaya dan tidak ada gunanya.

Guru kami Syaikhul Islam Buhanuddin berkata, "Anaknya orang alim atau guru akan ikut menjadi alim. Karena guru itu selalu berharap agar murid-muridnya menjadi orang yang alim dalam agama."

Berkat harapan itu, serta berkat kasih sayangnya terhadap murid, maka anaknya menjadi orang alim.

Diceritakan bahwa Shadrul Ajal Burhanul Aimmah menentukan waktu mengaji untuk dua putranya, Hassanuddin dan Tajuddin, yaitu pada waktu dhuha. Dan biasa mengajari anak-anaknya setelah murid-muridnya yang lain.

Kedua anak tersebut berkata, "Sesungguhnya kami tidak punya semangat mengaji pada waktu yang ditentukan oleh ayah kami." Kemudian ayahnya berkata, "Sesungguhnya orang-orang jauh datang mengaji kepadaku. Mereka adalah anak-anaknya orang besar dan terpandang dari berbagai daerah. Maka aku harus mendahulukan mengajar mereka." Tapi berkat kasih sayangnya, kedua putranya tadi dapat menandingi para ahli fiqih.

Santri hendaknya tidak menentang atau berdebat dengan seseorang karena hal itu hanya menyia-nyiakan waktu.

Ada yang berkata bahwa orang yang berlaku baik, akan dibalas dengan kebaikannya, dan orang yang jahat akan dibalas dengan kejahatannya.

Syaikh Az-Zahid Al-A'rif Muhammad bin Abi Bakar yang terkenal dengan panggilan Imam Jawahir Zadad Al-Mufti berkata: Aku pernah dibacakan syair oleh Yusuf Al Hamdani. Syair itu berbunyi, "Biarkanlah bila ada seseorang yang berbuat jahat kepadamu, jangan kau balas atas kejahatannya. Cukuplah apa yang dia lakukan sebagai balasan kejahatannya."

Ada yang berkata bahwa barangsiapa ingin menundukkan musuhnya, hendaklah mengulang-ulang syair berikut, "Jika kamu ingin membunuh seseorang karena sedih hati, atau ingin membakarnya karena gelisah, maka berpaculah untuk menambah ilmu, karena orang yang iri itu akan bertambah menderita batin."

Dikatakan: Kamu harus sibuk melakukan kebaikan, dan menghindari permusuhan. Jika kebaikan sudah semakin tampak dalam dirimu, maka keganasan musuh akan tertutupi oleh kebaikanmu.

Karena permusuhan hanya akan memojokkanmu dan membuang-buang waktumu. Dan kamu harus menahan diri dari permusuhan lebih-lebih jika menghadapi orang bodoh.

Nabi Isa as. berkata, "Bertahanlah menghadapi ejekan orang yang bodoh sekali saja, niscaya kamu akan beruntung sepuluh kali."

Seorang penyair berkata, "Dari masa ke masa, aku telah meneliti manusia, maka belum pernah aku melihat dari mereka, kecuali orang-orang penghianat dan pemurka atau pemarah. Dan aku tak pernah menghadapi masalah besar yang sukar diatasi kecuali permusuhannya orang laki-laki. Dan sudah aku rasakan seluruh kepahitan namun tidak ada yang lebih pahit kecuali meminta-minta."

Jangan berprasangka buruk terhadap orang mukmin, karena hal itu sumber permusuhan, dan tidak halal. Sabda Nabi SAW., "Berprasangka baiklah terhadap orang mukmin. Karena prasangka buruk itu timbul dari niat yang buruk, dan batik yang jahat."

Seperti yang dikatakan Abu Thayib lewat syair, "Jika buruk perbuatan seseorang, maka buruk pula dugaanya. Dan dugaannya itu ia anggap pasti benar. Diapun memusuhi orang-orang yang pernah ia cintai dengan melontarkan kata-kata yang dapat menyulut permusuhan. Dan ia ragu terhadap orang yang ia cintai, apakah orang yang dia cintai itu juga cinta padanya. Dia bagaikan berada ditengah malam yang gelap sehingga selalu menyangka yang bukan-bukan."

Aku juga pernah dibacakan syair berikut, "Menyingkirlah kamu dari perbuatan buruk, dan janganlah kamu menghendakinya. Dan orang yang telah kamu perlakukan dengan baik, maka tambahkanlah kebaikan padanya, walau ia jahat padamu. Karena kelak kamu akan terlindung dari tipu daya musuhmu, dan dia akan tertimpa ulahnya sendiri. Jika kamu ditipu sesorang, maka jangan kamu balas menimpanya."

Aku pernah dibacakan syairnya Al-Umaid Abil Fath Al Basti, "Orang yang pandai itu tidak lepas dari ulah orang bodoh yang sengaja mempersulit. Dia memang ingin menzalimi dan mempersulit orang pandai tersebut. Maka hendaknya dia (orang pandai) tidak membalas kejahatannya dan lebih memilih banyak diam."

27 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Waktu-Waktu Belajar Ilmu

Menuntut ilmu itu mulai dari ayunan (masih kanak-kanak) sampai ke liang kubur (mati). Hasan bin Ziyad tetap belajar ketika berusia 80 tahun. Dia tak pernah nyenyak tidur selama 40 tahun. Setelah itu dia berfatwa selama 40 tahun.

Masa muda harus digunakan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya. Adapun waktu belajar yang paling baik, ialah menjelang waktu Subuh dan antara waktu Magrib sampai Isya'.

Para santri harus memenafaatkan seluruh waktunya untuk belajar. Jika jemu mempelajari satu bidang ilmu, maka hendaknya belajar ilmu yang lain. Ibnu Abbas jika mulai jemu berkat, "Bawakanlah kemari buku ciptaan penyair." Muhammad bin Hasan setiap malam tak pernah tidur. Di sampingnya disediakan beberapa buku, bila merasa bosan mempelajari satu ilmu beliau ganti yang lain.

Beliau selalu menyediakan air di hadapannya, jika merasa ngantuk air itu diminum untuk mengusir rasa kantuknya. Beliau berkata, "Kantuk itu timbul dari panas, maka harus ditolak dengan air dingin."

26 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Tawakal

Para pelajar harus tawakal kepada Allah saat mencari ilmu dan tidak perlu cemas soal rezeki. Dan jangan terlalu sibuk memikirkan soal rezeki.

Abu Hanifah meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Hasan Az Zubaidi, sahabat Rasul SAW. berkata, "Barangsiapa memperdalam ilmu agama maka dia dicukupi oleh Allah. Dan dia pasti diberi rezeki oleh Allah dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa sibuk memikir soal rezeki, yakni makanan dan pakaian, maka jarang sekali ia memikirkan akhlak yang mulia, dna hal-hal yang tinggi nilainya."

Ada yang berkata, "Tinggalkan kemuliaan, jangan sekali-kali kamu mengejarnya. Duduk sajalah. Semua itu tiada guna karena kamu adalah orang yang memikirkan soal makanan dan pakaian."

Ada seorang laki-laki berkata kepada Manshur Al-Hallaj, "Tuan, sudilah berwasiat kepada saya." Beliau menjawab, "Sibukkan nafsumu! sebab jika dia tidak kamu sibukkan, justru dia yang menyibukkanmu." Jadi, setiap orang harus menyibukkan dirinya dengan amal-amal yang baik, dan tidak sibuk menuruti hawa nafsu. Orang berakal tak layak cemas dengan urusan dunia. Sebab susah itu tidak dapat mengusir musibah dan tiada gunanya.

Bahkan malah membahayakan hati, akal dan badan. Dapat menghapus amal baik. Seharusnya orang muslim itu prihatin memikir urusan akhirat. Itulah yang lebih bermanfaat.

Nabi SAW. bersabda, "Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada dosa yang tidak dapat terhapus kecuali dengan prihatin soal mencari nafkah." Maksud sabda ini ialah prihati yang tidak melalaikan amal-amal baik, dan tidak melalaikan hati dari mengingat Allah pada waktu salat.

Boleh memikirkan soal rezeki asal tidak sampai lupa kepada Allah ketika salat, maka yang demikian itu tergolong amal akhirat.

Para penuntut ilmu harus mengurangi hubungan dengan urusan duniawi sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena it, para ulama memilih menyendiri. Menjauh dari pergaulan. Santri harus tahan menderita di saat pergi menuntut ilmu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi Musa ketika menempuh perjalanan untuk berguru kepada Nabi Khidir. Perjalanan Nabi Musa mencari ilmu diabadikan dalam Al-Qur'an. Beliau berkata, "Sungguh benar-benar aku telah merasakan payah dalam perjalanan ini."

Hal ini supaya diketahui bahwa pergi menuntut ilmu itu tidak lepas dari kesengsaraan. Karena menuntut ilmu urusan yang amat besar dan lebih utama daripada perang, demikian menururt pendapat sebagian ulama, dan pahala itu menurut berat ringannya kesengsaraan yang dialami.

Orang yang tabah menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam mencari ilmu niscaya ia akan merasakan lezatnya ilmu, yang mana lezatnya tak ada bandingannya di dunia.

Adalah Imam Muhammad jika belajar sampai larut malam, lalu menemukan jawaban yang menjadi kesulitannya, dia berkata, "Dimanakah kenikmatan putra-putra raja jika dibanding dengan kenikmatan yang kini aku rasakan?"

Para penuntut ilmu seharusnya tidak menyibukkan diri kecuali hanya menuntut ilmu. Terutama ilmu fiqih.

Syaikh Muhammad berkata, "Pekerjaan kami ini (menuntut ilmu) adalah sejak dari ayunan hingga ke liang kubur. Oleh karena itu orang yang berhenti mencari ilmu sesaat saja, maka dia telah mati sesat."

Suatu ketika ada orang ahli fiqih menghadap Syaikh Abi Yusuf. Namanya Ibrahi Al Jarrah. Dia datang untuk menjenguk Abi Yusuf yang sedang sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Kemudian beliau bertanya kepada Syaikh Ibrahim, "Mana yang lebih utama, melempar jumrah sambil mengendarai unta, atau sambil berjalan kaki?" Syaikh Ibrahim tidak bisa menjawab, lalu Abi yusuf menjawab sendiri bahwa melempar jumrah sambil berjalan kaki lebih utama dan lebih dicintai oleh nabi dan shabatnya (assabiqunal awalin).

Begitulah seharusnya seorang ahli fiqih, selalu mencurahkan seluruh waktunya untuk mengkaji hukum-hukum agama. Kalau dia berbuat demikian tentu akan memperoleh kelezatan yang amat besar.

Ada yang berkata, "Bahwa ada orang mimpi bertemu Syaikh Muhammad setelah beliau wafat." Lalu orang itu bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaan tuan ketika Naza'?" Beliau berkata, "Waktu itu aku sedang memikirkan masalah budak mukatab. Jadi aku tidak merasa kalau nyawaku telah melayang."

Ada yang meriwayatkan bahwa pada akhir hayatnya beliau berkata, "Aku selalu sibuk memikirkan masalah budak mukatab, hingga aku tidak siap-siap menghadapi kematian ini." Beliau berkata demikian karena Tawadhu' (merendah diri).

Tentang Saya

Foto saya
Memiliki nama asli Nur Halida, semoga Allah mengampuni dosanya. Dimulai dengan suka membaca didukung dengan kepribadian introvert, lebih mudah mengungkapkan apa yang dipikirkan lewat tulisan. "Suatu saat raga kan menghilang, tulisan yang kan jadi kenangan"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.