Tampilkan postingan dengan label Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2018

Dian The Jenggot feat Nakami - Ayah Engkau di Mana




Dian The Jenggot feat Nakami - Ayah Engkau di Mana

Ayah engkau dimana?
Kenapa kau di rumah tapi kurasa tak ada
Ayah, engkau tahukah?
Ku rindukan saat-saat kita kumpul bersama

Ketika aku di rumah selepas dari bekerja
Sejenak menghirup udara dan pejamkan mata
Panggilan pun tidak ku hiraukan
Ku tolak dengan sgala alasan

Dan dengan lantang aku katakan
Bahwa aku sedang butuh ketenangan
Lalu ku masuki kamar milik buah hati yang kosong
Juga tak rapi berserakan sana sini

Sebuah buku kecil aku pandangi
Kupungut dan kubuka, kubaca dan kuresapi
Matakupun menyayu, bibirku pun mengelu
Hingga perlahan air mata menetes haru

Ku melihat coretan kecil buah hatiku
Dan tulisan polosnya tlah menggetarkan aku
Tangan dan sekujur badan pun mulai bergetar
Tangisku tak tertahan dan aku pun tersadar

Dia yang dulu kecil kini mulai membesar
Dan dengan polosnya dia mulai berujar


Ayah engkau dimana?
Kenapa kau di rumah tapi kurasa tak ada
Ayah, engkau tahukah?
Ku rindukan saat-saat kita kumpul bersama

Hati ini tak terima dan berontak sejadinya
Ingin marah tapi bingung marah pada siapa
Ku selami tiap kata yang tlah di tuliskannya
Semua murni dari curahan isi hatinya

Ku dalami dan ku maknai lagi
Barulah kusadari semua tentang diri ini
Yang selalu sibuk mengejar urusan duniawi
Dengan dasar mengatasnamakan anak dan istri

Malu aku malu, sungguh-sungguh malu
Jujur aku marah pada aku dan diriku
Kutukan kulontar pada diriku yang palsu
Yang egois dan tak pernah becus membagi waktu

Dan di kamar ini ku sebut ilahi
Ku mohon agar dosa-dosaku diampuni
Dan berikanku kesempatan tuk perbaiki
Agar tak lagi ada ujaran seperti ini


Ayah engkau dimana?
Kenapa kau di rumah tapi kurasa tak ada
Ayah, engkau tahukah?
Ku rindukan saat-saat kita kumpul bersama

Yang ku mau hanya satu ada kau ada untukku
Yang ku pinta satu saja kau selalu ada

Duhai Sang Maha Tinggi pemilik kehidupan ini
Jagalah diriku dan juga keluarga yang ku miliki
Padamu Ilahi mohon Kau ampuni
Mohon Kau lindungi

Limpahkan berkah dan karunia
Jauhkan kami, dari siksa neraka
Jadikan kami keluarga bahagia
Yang berkumpul bersama di dunia dan di surga

Ayah...
Ayah...
Ayah...
Ayah...
Ayah...

_________________________________________________________________________________

26 September 2017

Bila Aku Menjadi Usahawan Muda

Sumber: bintang.com

Bekerja adalah suatu kewajiban bagi seorang laki-laki guna menafkahi keluarga sedang untuk seorang perempuan bekerja adalah boleh artinya tidak ada keharusan. Bagi perempuan yang sudah berkeluarga ingin berkerja maka mereka tidak boleh meninggalkan tugas utamanya yaitu seorang ibu yang mendidik anak dan menjaga kehormatan keluarga. Walau sekarang saya masih kuliah namun tidak dapat dipungkiri bahwa kelak saya akan menikah dan menjadi seorang ibu. Dan sebagai seorang kakak yang memiliki dua orang adik, maka wajar saja jika saya ingin membantu orangtua untuk membiayai sekolah adik. Atas dasar itulah saya yang seorang perempuan ingin menjadi usahawan muda.

Pendidikan semakin tinggi dan gencar untuk melahirkan lulusan-lulusan yang siap bekerja sedang pertumbuhan antara pencari dan pemberi pekerjaan tidak seimbang, ditambah MEA yang mulai diberlakukan membuat kita masyarakat Indonesia semakin terancam untuk mendapatkan pekerjaan. Maka kita sebagai kaum muda harus lebih kritis, inovatif dan siap menghadapi masalah-masalah yang terjadi.

Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah. Memberi lebih baik dari menerima. Maka saya ingin memberikan orang lain pekerjaan bukan meminta pekerjaan.


Halida Lee
_____________________________
Tulisan kira-kira satu tahun yang lalu guna melengkapi berkas seminar kewirausahaan yang dilaksanakan oleh JIMKA

14 September 2017

Andaikan 'Boleh'

Kadang aku ingin kembali menjadi seorang yang egois agar hati ini tenang. Bukan permasalahan yang pelik, hanya saja saat ia datang hati ini menjadi sangat lelah.

Menyukai seseorang adalah hal yang wajar dan naluriah. Bagiku sebagai manusia yang normal, tentu saja pernah merasakannya juga. Gugup saat bertemu, cemburu jika ada orang yang lain dekat dengannya, ingin selalu melihatnya dan yang pasti ingin memilikinya seutuhnya.

Menjadi pribadi yang diam dan jarang menceritakan masalah 'rasa suka kepada lawan jenis' sering membuatku berpikir apakah harus mempublish tulisan ini. Namun dengan bismillah, insya Allah ini menjadi sharing yang mungkin bisa membantu kalian yang memiliki masalah yang sama.

Pernahkah kalian menyukai seseorang dengan diam? Menurutku kalian pasti pernah mengalaminya. Dari diam yang gak ada seorang pun tahu, teman dekat saja yang tahu, atau diam-diam kasih kode. Yah namanya juga perempuan ya, pasti memilih menunggu si dia deketin sambil kasih-kasih kode daripada langsung bilang.

Let's start my story

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal ini. Aku selalu menyukai seseorang dalam diam. Hanya diriku dan Allah saja yang tahu. Tidak pernah menceritakan ke siapa-siapa, meski pernah itu pun saat sudah menjadi kenangan alias sudah tidak suka lagi. Alasannya sih simpel aja, karena 'aku tidak ingin pacaran'.

Kalau ditanya sejak kapan aku tidak ingin pacaran, jawabannya saat aku kelas 6 SD. Kecil banget ya? Yupz... Saat itu tuh aku mulai mendengar istilah 'pacaran', karena didorong rasa penasaran dan ditambah kegemaran membaca akhirnya nyari buku masalah pacaran. Ortu sendiri gak suka kalau aku membaca buku selain buku pelajaran, jadi membaca itu waktu di rumah kakak sepupu aku. Karena tuh kakak sepupu notabe nya memang gak pacaran jadilah isi bukunya itu tentang ruginya kalau punya pacar.

Aku sendiri waktu membaca banyak mengangguknya, disitu dijelaskan kalau pacaran biasanya aktivitasnya apa-apa aja. Kebanyakan sih jalan-jalan, beli kado, smsan, telponan dan pokoknya hal-hal yang membuat kanker (kantong kering). Yah langsung aja aku berpikiran, "ortu kasih uang jajan sedikit untuk makan eh malah dibelanjaain untuk orang lain, kan sayang uangnya, nanti aja lah kalau udah besar, udah bisa menghasilkan uang sendiri". Terus karena masa-masa UN aku bernadzar, kalau lulus aku bakalan gak bakalan pacaran selama satu tahun. Alhamdulillah aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Setidaknya nilai untuk matpel yang aku sukai 'Matematika'.

Hari pertama masuk kelas 7 aku bertemu teman-teman baru dari SD yang berbeda. Yang satu SD cuma sedikit, hanya lima orang kalau tidak salah dan teman akrabku ada dikelas sebelah. Kelas 7 menjadi awal image baruku terbentuk, aku lupa image ku sewaktu SD seperti apa, yang ku ingat aku sedikit tomboi. Aku menjadi sosok yang jutek, pemarah dan pemukul. Mungkin satu-satunya perempuan 'jagoan' di kelas B, sedangkan dikelas A mereka punya jagoannya juga 'Dina'.

Aku seorang 'dewasa' yang masih suka bermain, main kejar-kejaran, pukul-pukulan, sepak bola, basket, panco. Bagiku teman yah teman, baik laki-laki atau perempuan. Namun perlahan tapi pasti rasa itu mulai datang menyapa 'rasa suka dengan laki-laki'. Alhamdulillah Allah menjaga ku dengan janji yang pernah ku buat, meski rasa datang menyapa dan bersambut semua ku tahan dengan janji itu. Janji yang melindungiku dari 'awal yang menjerumuskan'.

Janji itu mudah dibuat tapi sulit dipertahankan sampai akhir. Satu tahun, aku berulang kali menyukai orang yang sama dan mempertahankan janji itu. Satu tahun berakhir, janjiku telah terpenuhi namun ia menghilang tanpa kabar, tanpa ucap, tanpa perpisahan. Dan lagi Allah mejagaku dengan menghilangkan dia dari hidupku, mungkin ini jawaban dari doa yang pernah ku minta saat berusaha menjaga janji 'Ya Allah, jika ia jodohku maka dekatkan kami namun jika bukan jauhkan kami'.

Waktu berlalu begitu cepat hingga kelulusan SMP dan sebentar lagi masuk SMA. Lost contact, kadang aku dapat kabar dari temanku kalau dia sempat kembali ke kota ini, saat itu pula aku berharap bertemu dengannya. Selama ini aku hanya bertemu beberapa kali dengannya di alam mimpi, bisikan setan yang membuat hati merana.

Masa SMA aku punya cerita lain lagi, bisa dibilang mulai 'berani'. Namun intinya Allah kembali mejagaku dari ikatan fana itu. Alhamdulillah...

Andaikan aku tidak memikirkan perasaannya, aku akan melakukannya
Andaikan ini menjadi akhir, aku akan melakukannya
Andaikan aku sudah siap, aku akan melakukannya
Dan...
Andaikan 'boleh', aku akan melakukannya
Karena 'kemungkinan' dan 'ketidakpastian'
Diam dan do'a lah solusi terbaik yang bisa ku lakukan saat ini

Puisi tentang perasaan yang ada untuknya dan telah hilang dengan sendirinya, namun walau raga tak berkata hati seakan masih berharap dengannya. Tidak ada lagi rasa gugup, tidak ada lagi rasa cemburu, tidak ada lagi rasa ingin melihatnya, tidak ada lagi rasa ingin diperhatikan, tidak ada lagi rasa ingin dimengerti, hanya satu yang tertinggal yaitu rasa ingin jadikan ia pendamping hidup.

Dia yang hanya aku dan Allah yang tahu. Dia yang belum pernah ku minta kepada-Nya. Aku tidak akan meminta, aku hanya inginkan yang terbaik. Aku akan menerima yang terbaik meski bukan Dia orangnya. Begitu pula dia, bisa jadi akulah yang bukan terbaik untuknya.

Tidak ada ikatan yang diridhoi selain ikatan pernikahan dan pernikahan yang baik adalah pernikahan karena-Nya. Aku tidak bisa bermain-main dengan perasaan orang lain, aku tidak bisa terus-terusan berpikir tentang siapa jodohku, aku tidak bisa selalu galau saat menata masa depan dan selalu terlintas bayangannya,  aku tidak bisa membiarkan perasaan mengontrol hidupku, aku tidak bisa membiarkan setan dengan mudah mebisikkan kalimat-kalimat puitis, banyak hal yang harus dilakukan. Menjadi lebih baik, mempersiapkan dan menerima.

Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, hanya saja hamba sering lupa dan tidak menerima. Karena hamba meminta yang 'diinginkan' sedangkan Allah memberikan yang 'dibutuhkan'.

16 Agustus 2017

Jendela Dunia


Jika buku adalah jendela dunia
Maka mata adalah kuncinya
Dan informasi adalah petanya

Cara untuk mendapatkan peta?
Paling mudah dengan bertanya
Walau semua orang bisa saja memperolehnya
Namun tidak banyak yang membuka jendela
Terlihat dari hobi yang dilakukannya

Jika saja kita mencoba dan lebih berusaha
Maka tidak hanya dunia dan seisinya
Melainkan sampai ke akhiratnya

Sungguh tidak ada yang sia-sia
Meski itu hanya sebuah buku cerita
Tentang hakikat kehidupan, teladan sahabat, Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalah nikmat yang tiada tara
Sebab ilmu yang selalu berguna
Tidak pernah ada habisnya

Hingga maut memisahkan kita
Selalu mengalir baik dan buruknya
Untuk diri sendiri dan ummat lainnya

Maka mulailah membaca
Dengan tujuan ilmu yang mulia
Insyaallah akan dipermudah-Nya
Oleh Allah Yang Maha Kuasa

1 Agustus 2017

Malam Rabu'an

Adakah perjalanan tanpa tujuan? Seperti hari ini, memenuhi janji yang sudah lama diucapkan. Bergegas menghubungi dia, satu jam telah berlalu masih tidak ada jawaban. Satu jam lewat 15 menit ku putuskan untuk langsung menelpon, Alhamdulillah aktif dan diangkat. Tidak menunggu waktu lama aku langsung menuju ke tempat ia berada. Sempat tersesat namun berhasil sampai tujuan.

Perjalanan kami dimulai dengan saling bertanya, "Kemana kita?" tanya ku. "Aku tidak tahu" jawabnya. Meski aku tidak tahu kemana kami akan berhenti bukan berarti kami tidak memiliki tujuan. Tujuan kami adalah tempat makan. Belok kanan.. kiri.. lurus.. kiri.. kanan... putar balik dan akhirnya kami makan di KFC. 

Nyatanya bukan karena kita tidak memiliki tujuan, namun karena tidak benar-benar direncanakan. Menjadikan jalan yang dilewati sangat panjang. Maka bersyukurlah jika perjalanan panjang ini masih sampai ke tempat tujuan, karena fakta membuktikan banyak orang yang tersesat dan melupakan jalan kembali.


Agustus, 2017

Lelah?

​Lelah itu pasti, semudah apapun pekerjaan yang kita lakukan saat ini jika dilakukan tanpa henti tentulah melelahkan. Lelah sering menjadi alasan bagi orang yang ingin berhenti melakukan sebuah pekerjaan. Menurut ku lelah hanya jadi kambing hitam. Faktor utamanya adalah bosan.

Kenapa bosan? Bosan bisa terjadi karena aktivitas yang kita lakukan tidak didasari dengan sebuah 'tujuan'. Bergerak hanya karena 'memang harus dilakukan, kalau tidak dilakukan aneh de el el'

Lelah secara fisik mudah disembuhkan dengan istirahat yang cukup. Lah kalo lelah secara mental? Susah tuh menyembuhkannya. Fisik dan mental itu saling berhubungan. Makanya ada dokter fisiologi dan ada dokter psikologi. Semuanya saling terikat.

Kita sebagai Muslim jiwa kita adalah akidah kita. Fisik kita? Ya olahraga lah...
Ayo jadi menjadi pribadi yang lebih baik
Jaga kesehatan jasmani dan rohani dengan mengikuti semua apa yang diperintahkan sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah

#ProudBeMuslim

31 Juli 2017

Adab Menuntut Ilmu

Pernahkah kalian merasa sedih, kacau, bingung sampai ingin menangis saat mempelajari sesuatu? Mungkin ada yang mengatakan pernah dan mungkin ada juga yang mengatakan lebai. Sedikit berbagi pengalaman, hari ini adalah hari pertama pelajaran adab menuntut ilmu. Bagi kalian yang pernah ikut pengajian di masjid, mushola, atau pengajian ibu-ibu pasti pernah mendengar tetang pentingnya adab dalam menuntut ilmu.

Orang tua aku sendiri sering mengatakan anak jaman sekarang ‘tidak punya adab’ tidak seperti jaman dulu orang yang belajar pasti menjaga sekali dengan adab. Kadang kalau sudah diingatkan seperti ini didalam hati sangat kesal padahal apa yang dikatakan beliau gak salah. Maafkan anakmu ini Bapa.

Yang membuat ingin menangis itu karena ustadz nya membaca dengan cepat dan kitab yang digunakan full berbahasa arab. Masya Allah, cuma pernah belajar bahasa arab saat SMA dan juga gak begitu ngerti. Jadi saat ustadz menjelaskan itu dalam hati ngomong “ni ustadz baca yang mana?, kok gak dapat-dapat kalimat yang beliau baca, terus cepat banget.. apa yang harus ditulis ya?” tanya teman di samping, dia juga gak tahu. Tengok belakang barulah tahu kalimat mana yang dibaca. Dan akhirnya sama sekali gak fokus.

Namun hal yang paling di ingat adalah bahwa adab itu sangat penting di dalam menuntut ilmu. Seperti ulama-ulama zaman dulu yang belajar adab bertahun-tahun karena adab itu praktek yang harus dibiasakan, dan memang harus dipelajari bertahun-tahun agar melekat.

Setelah searching di google, Alhamdulillah dapat terjemahannya, aku ngambil di sini. Adab menuntut ilmu yang kami pelajari oleh Ustadz Fadlan Hidayat, menggunakan kitab Ta’lim Muta’allim karangan Syekh Az-Zarnuji. Beliau bermadzhab Hanafi. Yang terdiri dari 13 pasal, yaitu:
  1. Menerangkan hakekat ilmu, hukum mencari ilmu dan keutamaannya.
  2. Niat dalam mencari ilmu.
  3. Cara memilih ilmu, guru, teman dan ketekunan.
  4. Cara menghormati ilmu dan guru.
  5. Kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur.
  6. Ukuran dan urutannya.
  7. Tawakal.
  8. Waktu belajar ilmu.
  9. Saling mengasihi dan saling menasehati.
  10. Mencari tambahan ilmu pengetahuan.
  11. Bersikap wara’ ketika menuntut ilmu.
  12. Hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya.
  13. Hal-hal yang mempermudah datangnya rizki, hal-hal yang dapat memperpanjang dan mengurangi umur.

Semoga bermanfaat ^^

18 Juli 2017

Rasa yang Terbiasa

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku...
Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa.. 

Lirik lagu yang mengungkapkan bahwa kita tuh sebenarnya bisa suka sama orang lain karena faktor biasa. Yupzz... Karena terbiasa melihatnya setiap hari, biasa bawel, biasa ngomong, dan biasa minta bantuan tanpa sadar membuat kita menyukainya.

Kata orang cinta itu nggak bisa dipaksa tapi menurut ku itu hanya karena ego saja. Banyak kok pasangan suami istri yang menikah bukan berlandaskan rasa suka yang menggebu, mereka hanya sekedar tahu dan kata 'baik', 'mapan (bekerja)' menjadi kuncinya.

Pada akhirnya mereka memiliki anak dan rukun sampai sekarang. Sebagai kisah nyatanya, ada nih kisah kakak sepupu dari ayah. Debut saja Mbak Eni. Nah Mbak Eni sedang liburan ke kampung ku entah hanya sekedar liburan atau pergi karena takut dijodohkan sama orangtuanya. Setelah satu bulan di tempatku, Mbak Eni ditelpon sama ayahnya dan disuruh pulang katanya sih karena ada kerjaan yang cocok buat Mbak Eni. Dan ia memutuskan balik ke rumah.

Tak lama kemudian Bapak bilang kalau Mbak Eni mau nikah, yang ku dengar kalau si Mbak di nikahkan sama anak kenalan orangtuanya. Awalnya si Mbak Eni ogah dan bilang nggak mau tapi karena nggak mau membantah orangtua akhirnya ia mau.

Beberapa bulan telah berlalu, ternyata Mbak Eni Hamil... What? Hamil? Katanya nggak suka kok bisa hamil? Itulah kehidupan... Menyukai orang lain itu tidak sesulit yang dibayangkan. Ikatan suci membuat mereka harus hidup bersama walau tidak saling mengenal.

Ikatan suci yaitu pernikahan membuat dua orang insan saling mempercayai karena yakin ikatan itu tidak akan pernah putus.  Dan dengan berjalannya waktu mereka akan saling menjaga, menyayangi, dan tidak bisa dipisahkan dan terlebih lagi proses saling mengenal yang dilindungi ikatan pernikahan tidak akan menyakiti kedua insan tersebut...

Tentang Saya

Foto saya
Memiliki nama asli Nur Halida, semoga Allah mengampuni dosanya. Dimulai dengan suka membaca didukung dengan kepribadian introvert, lebih mudah mengungkapkan apa yang dipikirkan lewat tulisan. "Suatu saat raga kan menghilang, tulisan yang kan jadi kenangan"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.