Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab. Tampilkan semua postingan

27 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Hal Hal yang dapat Memperkuat Hafalan dan Melemahkannya

Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan ialah tekun atau rajin belajar, aktif mengurangi makan, salat malam dan membaca Al-Qur'an. Dikatakan, "Tidak ada yang lebih menambah kuatnya hafalan melebihi daripada membaca Al-Qur'an dan melihat pada mushaf." Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., "Amalan umatku adalah membaca Al-Qur'an dengan melihat."

Syaddad bin Hakim pernah mimpi bertemu arwah sebagian temannya yang telah wafat, lalu dia bertanya, "Apakah yang kamu jumpai yang paling berguna?" Temannya menjawab, "Membaca Al-Qur'an dengan melihat."

Santri kalau mengangkat kitab hendaknya membaca doa, "Dengan menyebut nama Allah, Maha Suci Allah. Segala puji hanya bagi Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Luhur dan Agung. Maha Perkasa, Maha Mulia. Sebanyak jumlah huruf yang ditulis dan yang akan ditulis sepanjang masa."

Dan setiap habis salat fardhu hendaknya berdoa, "Aku beriman kepada Allah Yang Maha Tunggal, Maha Esa, Allah Yang Hak tiada sekutu baginya dan aku tidak percaya kepada Tuhan selain Allah."

Santri harus banyak membaca salawat atas Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah sebagai pembawa rahmat kepada alam semesta.

Imam Syafi'i berkata, "Kuadukan buruknya hafalanku kepada Waki'. Lalu beliau menyuruhku meninggalkan maksiat. Sesungguhnya kuatnya hafalan itu merupakan keutamaan yang diberikan oleh Allah, dan kuatnya hafalan itu tidak diberikan kepada orang yang sering berbuat maksiat."

Makan kundar (kemenyan) dicampur madu, dan makan dua puluh satu anggur merah setiap pagi sebelum makan apa-apa, juga dapat menguatkan hafalan, dan dapat menyembuhkan macam-macam penyakit. Dan apa saja yang dapat mengurangi dahak, bisa menguatkan hafalan. Dan apa yang menambah dahak itu menyebabkan lemahnya hafalan.

Adapun yang dapat merusak hafalan adalah banyak berbuat maksiat, banyak dosa, banyak susah, prihatin memikirkan urusan harta, dan terlalu banyak kerja.

Telah disebutkan pada pasal yang lalu bahwa orang yang berilmu tidak perlu pusing dengan urusan dunia. Karena hal itu membahayakan dan tidak berguna. Orang yang cemas dengan urusan dunia biasanya karena hatinya gelap. Orang yang selalu memikirkan urusan akhirat, hatinya bercahaya. Hal itu pengaruhnya akan terlihat di dalam salatnya.

Cemas dengan urusan dunia bisa menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Sedang memikirkan urusan akhirat justru mendorong untuk beramal baik.

Mengerjakan salat dengan khusyu' dan menyibukkan diri untuk mencari ilmu dapat menghilangkan penderitaan dan kesusahan. Sebagaimana dikatakan Syaikh Nashr bin Hasan Al Marghinani kepada dirinya, "Mohonlah pertolongan wahai Nashr bin Hasan, di dalam setiap pengetahuan yang masih tersembunyi, itulah yang dapat mengusir gelisah, sedang selainnya tidak dapat dipercaya."

Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad Nasafi juga mengalunkan beberapa baik syair untuk menyinggung budak Ummu Walad miliknya: "Salam, buat orang yang memikatku dengan kecantikannya, dan mengkilatkan kedua pipinya, serta melirikkan matanya. Aku telah tertawan dan tergoda oleh seorang gadis yang manis. Akal pun bingung untuk mensifati pribadi orang itu. Tapi aku berkata, Tinggalkanlah aku dan maafkanlah aku. Karena aku telah terbuai atau sibuk menuntut ilmu dan mendalaminya."

Hal-hal yang menyebabkan cepat lupa ialah makan ketumbar basah, makan apel yang kecut, melihat orang yang dipancung, membaca tulisan di kuburan, melewati barisan unta, membuang ketombe hidup di tanah dan catuk (melukai di bagian tengkuk kepala untuk menghilangkan rasa pusing) di bagian liang tengkuk. Maka santri hendaknya meninggalkan semua itu karena bisa menyebabkan lupa.

26 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Sikap Wara' dalam Menuntut Ilmu

Sebagian ulama meriwayatkan sebuah hadis, dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Barangsiapa tidak berlaku wara' ketika belajar ilmu, maka dia akan diuji oleh Allah dengan salah satu dari tiga macam ujian, mati muda, ditempatkan bersama orang-orang bodoh, atau diuji menjadi pelayan pemerintah."

Santri yang bersifat wara' ilmunya lebih bermanfaat. Belajarnya lebih mudah. Termasuk sifat Wara' ialah menghindari rasa kenyang, banyak tidur, dan banyak bicara yang tidak berguna. Hindari makan makanan pasar kalau bisa. Karena makanan pasar itu dekat kepada najis dan kotor, ketika membuatnya jauh dari zikir kepada Allah, lebih dekat kepada kelalaian. Sebab mata orang-orang fakir itu memperhatikan makanan itu tapi mereka tak beruang, dan tidak mampu membeli. Mereka tentu menahan rasa sakit karena tidak terpenuhi keinginannya. Oleh karena itu makanan pasar itu hilang berkahnya.

Diceritakan bahwa Syaikh Al Jail Muhammad bin Fadhal ketika mengaji beliau tidak mau makan makanan pasar. Ayahnya yang tinggal di desa pada suatu hari datang ke tempatnya, pada hari Jumat. Kemudian beliau menyiapkan makanan untuk ayahnya. Ketika ayahnya masuk ke rumahnya, dia melihat ada sepotong roti pasar. Maka ayahnya tak mau berbicara dengannya karena murka.

"Makanan ini bukan saya yang membeli, karena saya tidak menyukainya. Tapi teman saya yang membawakannya" Alasan beliau kepada ayahnya, lalu ayahnya berkata, "Jika kamu mau berhati-hati dan hidup wara' tentu temanmu itu tidak membawa makanan itu."

Begitulah gaya hidup para ulama salaf. Mereka bersikap wara', oleh sebab itu mereka diberi keluasan ilmu dan diberi kekuasaan untuk menyebarkannya, sehingga nama mereka tetap dikenang sampai hari kiamat.

Salah seorang ahli fiqih yang zuhud berpesan kepada seorang pelajar, "Jauhkan diri dari membicarakan orang lain dan dari kumpul-kumpul bersama orang yang banyak bicara."

Beliau berkata pula, "Sungguh orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan membuang-buang waktumu."

Termasuk wara' adalah menyingkir dari orang yang suka berbuat kerusakan dan maksiat serta senang menganggur. Karena bergaul dengan orang seperti itu bisa terpengaruh. Santri hendaknya menghadap kiblat ketika belajar untuk mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan hendaknya ia mengambil manfaat dari doa orang yang ahli berbuat baik dan hendaknya ia menghindari doa orang yang teraniaya.

Dikisahkan bahwa ada dua orang laki-laki pergi mengaji di tempat yang jauh. Kedua orang tersebut menuntut ilmu di tempat yang sama. Mereka selalu mengulang-ulang pelajarannya bersama-sama.

Setelah beberapa tahun mereka kembali ke daerahnya. Tapi yang satu pandai dan yang satunya tidak. Kemudian para ahli fiqih di daerah itu bertanya kepada dua orang itu tentang keberadaannya, cara belajarnya, dan cara duduknya ketika belajar. Lalu para ahli fiiqh itu mendapat berita bahwa orang yang pandai itu, ketika belajar ia menghadap kiblat dan menghadap ke kota dia menimba ilmu. Sedang temannya membelakangi kiblat ketika belajar, dan mukanya berpaling dari arah kota itu.

Maka para ulama dan fuqaha bersepakat bahwa orang yang pandai tersebut karena mendapat berkatnya menghadap kiblat. Karena menghadap kiblat ketika belajar hukumnya sunnah. Dan karena berkat doanya orang-orang Islam yang menghuni kota tersebut. Karena penduduk kota tersebut ahli ibadah, yang selalu mendoakan orang yang belajar ilmu agama di malam hari.

Oleh karena itu, seorang santri tidak boleh meremehkan adab sopan santun dan hal-hal yang hukumnya sunnah. Karena orang yang meremehkan adab, pasti dia terhalang hal-hal yang sunnah. Barangsiapa meremehkan ibadah-ibadah sunnah , maka dia pasti terhalang dari ibadah fardhu. Akibatnya dia bisa meremehkan ibadah fardhu. Dan orang yang meremehkan ibadah fardhu tentu terhalang dari urusan akhirat. Begitu menurut hadis Rasulullah SAW.

Seorang santri harus memperbanyak salat. Harus khusyu' ketika melakukan salat. Karena hal itu dapat membantu memperoleh ilmu dan belajar.

Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad Nasafi, berkata dalam syairnya: "Kamu adalah orang yang menjaga perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Dan orang yang menjaga dan aktif mengerjakan salat. Tuntutlah ilmu agama. Syara'. Giatlah mempelajarinya sambil memohon pertolongan melalui amalan yang baik, niscaya kamu menjadi orang ahli ilmu agama. memohonlah kepada Tuhanmu agar hafalanmu diperlihara dari kelupaan oleh-Nya. Karena kamu orang yang suka akan anugerah-Nya. Allah adalah sebaik-baik Zat yang memelihara."

Beliau juga berkata, "Taatlah kalian kepada Allah dan bersemangatlah, jangan bermalas-malasan. Karena kalian pasti akan kembali kepada-Nya, jangan hanya tidur karena sebaik-baik makhluk adalah orang yang sedikit tidurnya."

Seorang pelajar harus selalu membawa buku setiap waktu, untuk ditelaah. Dikatakan, "Barangsiapa yang tidak ada buku disakunya, maka tidaklah melekat hikmah dalam hatinya."

Pelajar harus mencatat di bukunya apa yang didengar dari gurunya.

5 Mei 2018

Ta'lim Muta'allim - Mencari Tambahan Ilmu

Para santri harus menambah ilmu setiap hari agar dapat kemuliaan. Harus selalu membawa buku dan pulpen, untuk menulis ilmu yang bermanfaat yang ia dengar setiap saat. Karena ilmu yang dihafal suatu ketika bisa lupa. Sedang ilmu yang ditulis akan tetap abadi. Ada yang berkata, "Ilmu itu sesuatu yang diambil dari mulut orang-orang pandai karena mereka itu menghafal sebaik-baik yang mereka dengar. Dan mengatakan sebaik-baik yang mereka hafal."

Hilal bin Yasar berkata, bahwa Nabi SAW. pernah bersabda kepada para sahabatnya tentang ilmu dan hikmah. Lalu aku berkata, "Ya Rasul, sudilah tuan mengulangi apa yang tuan katakan kepada kami?" Kemudian Nabi SAW. bersabda, "Apakah kamu membawa tinta?" Aku menjawab, "Saya tidak."

Nabi berkata, "Ya Hilal, janganlah kamu meninggalkan wadah tinta. Karena kebaikan itu ada padanya, dan pada orang yang memilikinya hingga kiamat."

Shadru Syahid Husam berpesan kepada putranya, Syamsuddin, supaya menghafal sedikit ilmu pengetahuan dan hikmah setiap hari. Karena sesuatu yang banyak itu dimulai dari sedikit.

Isham bin yusuf pernah membeli pena seharga satu dinar untuk menulis apa yang ia dengar waktu mengaji. Karena dia sudah tahu bahwa umur manusia itu pendek, sedang ilmu amat banyak.

Oleh karena itu dia tidak mau menyia-nyiakan waktu sesaat pun. Dia gunakan waktu malam untuk mendalami ilmu agama.

Yahya bin Mu'adz Ar-Razi berkata, "Malm itu amat panjang, maka jangan kamu habiskan untuk tidur. Siang hari itu terang benderang, maka jangan kamu redupkan dengan dosa-dosamu."

Santri harus bisa memanfaatkan kesempatan bersama para ulama.Gunakan untuk menimba pengetahuan dari mereka. Karena kesempatan yang baik apabila telah hilang, tidak akan dijumpai lagi, sebagaimana yang dikatakan Ustadz Syaikhul Islam dalam kitab Masyihatnya, "Banyak sekali guru besar yang luas ilmu dan keutamaannya yang pernah aku jumpai, namun aku tak memperoleh kebaikan dari mereka." Atas keteledoran ini, aku gubah sebuah syair, "Oh.. Sungguh aku menyesal dengan segala penyesalan atas kelengahan. Setiap sesuatu yang telah hilang tak akan bisa dijumpai lagi." Sayidina Ali ra. berkata, "Bila kamu berada dalam satu urusan makan tetaplah di dalamnya. Kehinaan dan kerugian itu akibat berpaling dari ilmu Allah. Maka berlindunglah kepada Allah darinya pada malam dan siang hari."

Para penuntut ilmu harus tahan menanggung penderitaan dan kehinaan ketika mencari ilmu. Tamalluq (mencilat atau mencari muka) itu tercela kecuali dalam urusan menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu itu tidak bisa terpisah dari guru, teman-teman belajar, dan sebagainya.

Ada yang berkata, "Ilmu itu luhur; tiada hina padanya. Namun ilmu tak bisa didapat kecuali dengan merendah." Penyair berkata, "Aku tahu kamu bernafsu ingin menjadi orang mulia. Namun kamu tak akan menperoleh kemuliaan selama kamu tidak  menghinakan diri sendiri."

26 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Tawakal

Para pelajar harus tawakal kepada Allah saat mencari ilmu dan tidak perlu cemas soal rezeki. Dan jangan terlalu sibuk memikirkan soal rezeki.

Abu Hanifah meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Hasan Az Zubaidi, sahabat Rasul SAW. berkata, "Barangsiapa memperdalam ilmu agama maka dia dicukupi oleh Allah. Dan dia pasti diberi rezeki oleh Allah dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan barangsiapa sibuk memikir soal rezeki, yakni makanan dan pakaian, maka jarang sekali ia memikirkan akhlak yang mulia, dna hal-hal yang tinggi nilainya."

Ada yang berkata, "Tinggalkan kemuliaan, jangan sekali-kali kamu mengejarnya. Duduk sajalah. Semua itu tiada guna karena kamu adalah orang yang memikirkan soal makanan dan pakaian."

Ada seorang laki-laki berkata kepada Manshur Al-Hallaj, "Tuan, sudilah berwasiat kepada saya." Beliau menjawab, "Sibukkan nafsumu! sebab jika dia tidak kamu sibukkan, justru dia yang menyibukkanmu." Jadi, setiap orang harus menyibukkan dirinya dengan amal-amal yang baik, dan tidak sibuk menuruti hawa nafsu. Orang berakal tak layak cemas dengan urusan dunia. Sebab susah itu tidak dapat mengusir musibah dan tiada gunanya.

Bahkan malah membahayakan hati, akal dan badan. Dapat menghapus amal baik. Seharusnya orang muslim itu prihatin memikir urusan akhirat. Itulah yang lebih bermanfaat.

Nabi SAW. bersabda, "Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada dosa yang tidak dapat terhapus kecuali dengan prihatin soal mencari nafkah." Maksud sabda ini ialah prihati yang tidak melalaikan amal-amal baik, dan tidak melalaikan hati dari mengingat Allah pada waktu salat.

Boleh memikirkan soal rezeki asal tidak sampai lupa kepada Allah ketika salat, maka yang demikian itu tergolong amal akhirat.

Para penuntut ilmu harus mengurangi hubungan dengan urusan duniawi sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena it, para ulama memilih menyendiri. Menjauh dari pergaulan. Santri harus tahan menderita di saat pergi menuntut ilmu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi Musa ketika menempuh perjalanan untuk berguru kepada Nabi Khidir. Perjalanan Nabi Musa mencari ilmu diabadikan dalam Al-Qur'an. Beliau berkata, "Sungguh benar-benar aku telah merasakan payah dalam perjalanan ini."

Hal ini supaya diketahui bahwa pergi menuntut ilmu itu tidak lepas dari kesengsaraan. Karena menuntut ilmu urusan yang amat besar dan lebih utama daripada perang, demikian menururt pendapat sebagian ulama, dan pahala itu menurut berat ringannya kesengsaraan yang dialami.

Orang yang tabah menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam mencari ilmu niscaya ia akan merasakan lezatnya ilmu, yang mana lezatnya tak ada bandingannya di dunia.

Adalah Imam Muhammad jika belajar sampai larut malam, lalu menemukan jawaban yang menjadi kesulitannya, dia berkata, "Dimanakah kenikmatan putra-putra raja jika dibanding dengan kenikmatan yang kini aku rasakan?"

Para penuntut ilmu seharusnya tidak menyibukkan diri kecuali hanya menuntut ilmu. Terutama ilmu fiqih.

Syaikh Muhammad berkata, "Pekerjaan kami ini (menuntut ilmu) adalah sejak dari ayunan hingga ke liang kubur. Oleh karena itu orang yang berhenti mencari ilmu sesaat saja, maka dia telah mati sesat."

Suatu ketika ada orang ahli fiqih menghadap Syaikh Abi Yusuf. Namanya Ibrahi Al Jarrah. Dia datang untuk menjenguk Abi Yusuf yang sedang sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Kemudian beliau bertanya kepada Syaikh Ibrahim, "Mana yang lebih utama, melempar jumrah sambil mengendarai unta, atau sambil berjalan kaki?" Syaikh Ibrahim tidak bisa menjawab, lalu Abi yusuf menjawab sendiri bahwa melempar jumrah sambil berjalan kaki lebih utama dan lebih dicintai oleh nabi dan shabatnya (assabiqunal awalin).

Begitulah seharusnya seorang ahli fiqih, selalu mencurahkan seluruh waktunya untuk mengkaji hukum-hukum agama. Kalau dia berbuat demikian tentu akan memperoleh kelezatan yang amat besar.

Ada yang berkata, "Bahwa ada orang mimpi bertemu Syaikh Muhammad setelah beliau wafat." Lalu orang itu bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaan tuan ketika Naza'?" Beliau berkata, "Waktu itu aku sedang memikirkan masalah budak mukatab. Jadi aku tidak merasa kalau nyawaku telah melayang."

Ada yang meriwayatkan bahwa pada akhir hayatnya beliau berkata, "Aku selalu sibuk memikirkan masalah budak mukatab, hingga aku tidak siap-siap menghadapi kematian ini." Beliau berkata demikian karena Tawadhu' (merendah diri).

24 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Mulai Mengaji, Ukuran dan Urutannya

Guru kami, Syaikh Burhanuddin biasa memulai mengaji pada hari Rabu. Beliau melakukan hal itu berdasarkan hadis nabi yang berbunyi "Tidak ada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan menjadi sempurna."

Abu Hanifah meriwayatkan hadis ini dari gurunya, Imam Ahmad bin Abd. Rasyid. Abu Hanifah juga biasa melakukan hal ini.

Aku pernah mendengar orang yang terpercaya berkata bahwa Syaikh Abu Yusuf Al Hamdany biasa memulai pekerjaan yang baik pada hari Rabu.

Kebiasaan ini baik dan benar karena hari Rabu adalah hari di mana cahaya diciptakan. Hari Rabu adalah hari naas bagi orang kafir, tapi bagi orang mukmin adalah hari yang penuh berkah.

Adapun ukuran dalam belajar bagi orang yang baru memulai, menurut cerita Abu Hanifah dari Syaikh Umar bin Abi Bakr bahwa beliau berkata, "Seharusnya santri menghafal kitab yang dibaca lalu memahami isinya. Kalau sudah paham baru menambah sedikit demi sedikit. Setiap kitab minimal dibaca dua kali. Tapi kalau kitabnya tebal harus diulang-ulang sampai sepuluh kali. Cara belajar seperti ini harus dibiasakan oleh tiap-tiap santri."

Bahkan ada yang berkata, "Harus diulang-ulang sampai seribu kali." Sebaiknya murid itu memulai dari kitab yang lebih udah dimengerti. Syaikh Syarifuddin berkata, "Cara yang benar menurutku, santri yang baru mulai mengaji, sebaiknya meniru kebiasaan yang dilakukan para ulama. Mereka menganjurkan para santri supaya memulai dari kitab yang kecil-kecil, karena disamping lebih mudah dipahami, juga tidak membosankan, dan lebih melekat."

Setelah benar-benar hafal dan mengerti, santri harus mencatatnya, karena hal itu banyak manfaatnya dikemudian hari. Santri sebaiknya tidak menulis pelajaran yang belum dipahami, sebab hal itu akan menimbulkan kerancuan, menghilangkan kecerdasan dan menyia-nyiakan waktu.

Seyogyanya santri berusaha sungguh-sungguh memahami apa yang diterangkan oleh gurunya. Kemudian diulang-ulang sendiri beberapa kali. Dan direnungkan supaya benar-benar mengerti. Karena mendengar satu kalimat lalu dihafal dan dimengerti, itu lebih baik daripada mendengar seribu kalimat tapi tidak paham.

Dikatakan: Hafal dua huruf lebih baik daripada mendengar dua pikul dan paham dua huruf lebih baik daripada hafal dua pikul. Jika seseorang meremehkan pemahaman dan tidak mau berusaha satu dua kali, maka ia akan terbiasa demikian, sehingga kalimat yang mudah pun akan sulit dipahaminya.

Oleh karena itu seharusnya dia berusaha, memahami pelajarannya sambil berdoa kepada Allah. Dan Allah tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.

Syaikh Qiwamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail Ash-Shaffar membaca syairnya Qadhi Khalil bin Ahmad Sarhasiy, "Carilah ilmu dengan sungguh-sungguh sampai kamu merasa nikmatnya mencari ilmu dan tetaplah mempelajarinya dengan cara yang terpuji. Jika kamu telah memahami suatu pelajaran, maka ulangilah, kemudian kukuhkanlah dalam hari sekukuh-kukuhnya, setelah itu catatlah ia, karena kalau sewaktu-waktu kamu lupa, kamu dapat mempelajarinya kembali."

Jika kamu sudah merasa benar-benar mengerti dan tidak khawatir lupa, maka bergegaslah mengkaji pelajaran yang lain, dan berusaha memahami pelajaran yang baru.

"Amalkan ilmumu kepada manusia agar ilmumu hidup. Jangan menjauhi orang-orang yang berilmu. Jika kamu menyembunuikan ilmu maka Allah akan membuatmu lupa sehingga kamu kelihatan seperti orang bodoh dan tumpul akalnya. Dan pada hari kiamat nanti kamu akan dikalungi apinya neraka sehingga tubuhmu hangus."

Para santri atau pelajar harus sering mendiskusikan suatu pendapat atau masalah dengan teman-temannya. Diskusi tersebut harus dilakukan dengan tertib atau tenang. Tidak gaduh, tidak emosi. Karena tertib dan tenang dalam berfikir adalah tiangnya musyawarah. Dan tujuan musyawarah adalah mencari kebenaran. Tujuan itu akan tercapai bila orang-orang yang terlibat dalam diskusi atau musyawarah tersebut bersikap tenang, benar dalam berfikir, dan lapang dada. Sebaliknya, hal itu tidak akan berhasil bila timbul kegaduhan dan saling emosi.

Jika tujuan diadakannya diskusi tersebut untuk saling mengalahkan hujah temannya, maka tidak halal. Diskusi itu halal kalau tujuannya untuk mencari kebenaran. Sedangkan mengaburkan persoalan atau jawaban, atau memberi tanggapan dengan cara yang tidak semestinya, juga tidak halal. Kecuali jika orang yang bertanya itu bermaksud mempersulit, tidak mencari kebenaran.

Muhammad bin Yahya jika menghadapi pertanyaan yang rumit dan belum bisa menjawab, beliau berkata kepada si penanya, "Apa yang Anda tanyakan itu perlu dijawan, tapi karena saya belum bisa menjawab, maka akan saya pikir dulu, sebab diatas orang yang pandai masih ada orang yang lebih pandai lagi. Belajar dengan cara diskusi dan dialog ini lebih efektif daripada belajar sendiri, sebab di dalam diskusi kita di tuntut untuk berpikir dan belajar lebih maksimal."

Ada yang berkata, bahwa diskusi sesaat itu lebih baik daripada belajar sebulan, asal diskusi tersebut bersama orang yang sadar dan baik tabiatnya.

Hindarilah musyawarah dengan orang yang suka mempersulit masalah orang lain, dan tidak baik tabiatnya. Karena tabiat buruk bisa menular.

Seorang penyair berkata, "Diantara suarat ilmu itu, ia menjadikan semua orang sebagai pelaya bagi orang yang melayaninya."

Para santri harus senang mengamati atau memikirkan pelajaran-pelajaran yang sukar dipahami, dan harus membiasakan hal itu. Karena banyak orang bisa mengerti setelah ia mau memikirkan. Oleh karena itu ada yang berkata, "Perhatikanlah niscaya kamu akan mengerti." Sebelum berbicara, santri harus berpikir dulu, supaya ucapannya benar. Karena ucapan itu bagaikan anak panah, oleh karena itu harus diluruskan atau dipikir dulu sebelum berbicara, agar tidak salah.

Seorang ahli fiqi berkata, "Berpikir sebelum berkata itu sangat penting. Oleh karena itu, para ahli ilmu fiqih harus berpikir dulu sebelum bicara."

Jika kamu mentaati orang yang menasihati dan yang mengasihanimu, maka jangan kamu lupakan waktu ia berbicara, ukurannya, dan tempatnya.

Para pelajar harus terus berpikir atau mengamati, dan terus menambah pengetahuannya, setiap waktu, dan belajar dari siapa saja.

Rasulullah SAW. bersabda, "Hikmah (ilmu) itu ibarat barang berharaga orang mukmin yang hilang. Makam dimana saja dijumpai, harus diambil." Ada yang berkata, "Ambillah apa yang terang, dan tinggalkan apa yang suram."

Aku pernah mendengar Syaikh Fahruddin Al Kasyani berkata, "Budak perempuan Abu Yusuf dititipkan kepada Syaikh Muhammad, lalu Syaikh Muhammad bertanya kepada budak itu apakah kamu pernah melihat kebiasaan dan mendengar perkataan Abu Yusuf sekarang ini?" Dia menjawab, "Tidak, kecuali dia mengulang-ulang kalimat. "Bagian daur itu gugur." Kalimat ini dihafal oleh Muhammad. Padahal masalah daur ini sukar bagi Muhammad, maka dengan mendengar kalimat tadi, kesukarannya hilang.

Dari situ jelas bahwa menambah faedah atau pengertian itu dapat dilakukan melalui siapa saja. Abu Yusuf pernah ditanya mengenai cara ia mendapatkan ilmu. Beliau menjawab, "Aku tak pernah enggan menambah pengertian dan aku juga tak pernah keberatan memberikan faedah kepada orang lain."

Ibnu Abbas pernah ditanya hal yang sama, beliau menjawab, "Lisan yang banyak bertanya, dan hari yang banyak berpikir." Para santri zaman dahulu sering bertanya dengan pertanyaan berikut, "Bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?"

Imam Abu Hanifah menjadi ahli fiqih karena beliau sering tukar pendapat di tokonya sambil dagang kain.

Dari kisah ini bisa diketahui bahwa mencari ilmu itu bisa sambil bekerja. Abu Hafas Al Kabir bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannya. Maka, apabila keadaan menuntut seorang santri untuk bekerja menafkahi keluarganya atau lainnya, maka bekerjalah, "Tapi jangan lupa belajar, dan jang bermalas-malasan."

Bagi orang yang sehat jasmani dan rohani, tidak ada alasan untuk meninggalkan belajar, sebab tiada seorang pun yang lebih miskin daripada Abi Yusuf, tapi beliau tetap belajar.

Barangsiapa berharta banyak, maka sebaik-baik harta yang dimiliki orang saleh, ialah harta yang dihabiskan untuk menuntut ilmu. Ada seorang alim ditanya. "Dengan apa Anda memperoleh ilmu? Beliau menjawab, "Karena saya mempunyai ayah kaya. Ayahku memberikan atau menggunakan hartanya untuk orang-orang alim dan mulia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan."

Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah berkata, "Saya memperoleh ilmu karena saya selalu memuji dan bersyukur kepada Allah. Jika aku dapat mengerti suatu masalah, maka aku mengucapkan Alhamdulillah." Oleh karena itulah ilmuku semakin bertambah.

Para santri harus selalu bersyukur kepada Allah, baik dalam bentuk ucapan, hati, maupun tindakan nyata. Harus yakin bahwa pengertian, pengetahuan, dan taufik itu hanya anugerah dari Allah. Harus memohon petunjuk-Nya dengan berdoa dan merendah diri kepada-Nya. Karena Dia selalu menunjukkan jalan kepada orang yang memohon petunjuk-Nya.

Kaum Ahlu Sunnah wal Jamaan memohon kebenaran kepada Allah Yang Maha Besar, Maha Menunjukkan. Maha Pemberi Ketenangan Lagi Maha Melindungi. Lalu mereka pun diberi petunjuk dan dilindungi dari kesesatan. Sedang ahli bid'ah selalu mengagumi pendapatnya sendiri, mengandalkan akal. Dalam mencari kebenaran.

Padahal akal itu lemah. Tidak mampu menguasai segala sesuatu, sebagaimana halnya penglihatan yang tidak mampu melihat segala sesuatu. Oleh karena itu mereka terhalang dari kebenaran. Lemah, sesat, dan menyesatkan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh akan tahu Tuhannya. Dan jika tahu kelemahan dirinya, maka dia tahu sifat kekuasaan Allah."

Santri tidak boleh mendewakan akalnya, tapi harus berserah diri kepada Allah, dan harus mencari kebenaran dari-Nya. Barangsiapa berserah diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya, dan akan ditunjukkan ke jalan yang lurus. Barangsiapa berharta, maka jangan kikir atau bakhil.

Para pelajar harus memohon perlindungan kepada Allah dari sifat kikir. Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Tidakkah ada penyakit yang lebih parah daripada kikir?"

Ayah Syaikh Syamsul Aimmah Al Halwani itu adalah seorang fakir. Kerjanya menjual manisan. Dia suka memberikan manisan itu kepada fuqaha (ahli fiqih) sambil berkata kepada mereka, "Doakanlah anakku!" Berkat kemurahan hatinya, maka putranya berhasil mencapai apa yang dia cita-citakan.

Para santri harus rajin membeli kitab, dan menyuruh orang lain menuliskan kitab, karena hal itu dapat membantu mempermudah mengaji dan belajar Ilmu fiqih.

Muhammad bin Hasan adalah orang yang kaya raya. Sehingga untuk mengurus hartanya diperlukan tiga ratus orang. Lalu semua hartanya itu didermakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehingga beliau tak memiliki sepotong pakaian pun yang bagus. Kemudian suatu ketika Abu Yusuf melihat beliau mengenakan pakaian bertambal, maka ia lalu mengirimkan kepada beliau pakaian yang bagus, namun beliau menolak pemberian itu dengan halus.

Lalu beliau berkata, "Kalian telah diberi harta dunia, sedang aku akan diberi di akhirat nanti." Menerima hadiah tersebut menurutnya hanyalah menghinakan diri sendiri. Sekalipun beliau tahu bahwa menerima hadiah itu sunah.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak layak orang mukmin menghinakan dirinya."

Diceritakan bahwa Imam Irsabandi pernah mengumpulkan kulit semangka di tempat yang sepi, lalu memakannya. Hal itu dilihat oleh seorang budak perempuan lalu budak tersebut melaporkan peristiwa itu kepada tuannya. Tuannya segera membuatkan hidangan untuk Imam Irsabani, kemudian beliau diundang makan. Tapi beliau menolak undangan itu. Begitulah seharusnya seorang pelajar bercita-cita dan bersikap. Jangan rakus dengan harta orang lain.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tinggalkanlah sifat tamak, karena tamak adalah kefakiran yang hadir." Santri juga tidak boleh kikir dengan harta yang dimiliki, tapi harus menafkahkannya untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Rasulullah SAW. bersabda, "Manusia seluruhnya adalah fakir, karena mereka takut fakir. Orang-orang pada jaman dahulu belajar bekerja kemudian baru belajar ilmu pengetahuan, sehingga mereka tidak tamak dengan harta orang lain."

Didalam kata hikmah dikatakan, "Barangsiapa yang tamak dengan harta orang maka dia akan fakir." Orang alim yang tamak, maka musnahlah kehormatannya, dan tak akan bisa berkata benar. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW. mohon perlindungan seraya berdoa, "Aku berlindung kepada Allah dari sifat tamak yang menjadi watak."

Para pelajar seharusnya tidak berharap kecuali hanya kepada Allah. Dan tidak takut kecuali kepada-Nya. Hal itu tampak dari berani tidaknya ia melanggar hukum syariat.

Barangsiapa bermaksiat kepada Allah karena takut kepada makhluk, berarti dia takut kepada selain Allah. Dan berangsiapa yang tidak bermaksiat karena takut kepada makhluk, dan dia menjaga batas-batas hukum syariat, maka dia tidak takut kepada selain Allah, tetapi takut kepada Allah. Begitu pula dalam urusan harapan.

Para santri harus mengulang-ulang pelajarannya sampai jumlah bilangan tertentu. Kalau setiap malamnya mengulangi pelajarannya sampai sepuluh kali, maka begitu seterusnya. Karena pelajaran itu tidak bisa melekat di hati bila tidak diulang-ulang.

Santri harus membiasakan membaca pelajaran dengan suara keras. Sebab belajar itu harus dengan semangat, tapi juga tidak boleh keras-keras, dan tidak usah memaksakan diri, supaya tidak cepat bosan, karena sebaik-baik perkara itu yang sedang-sedang.

Diceritakan bahwa Abi Yusuf mendiskusikan ilmu fiqih dengan para ulama. Dia berdebat dengan semangat, sampai mertuanya heran padanya, sebab dia menahan lapar sejak lima hari, tapi masih kuat musyawarah dengan kuat dan semangat.

Santri tidak boleh patah semangat atau frustasi, karena hal itu berakibat buruk. Syaikh Burhanuddin berkata, "Aku dapat mengalahkan teman-temanku karena aku tak pernah mengalami patah semangat, dan tak pernah goncang dalam mencari ilmu."

Dikisahkan bahwa Syaikhul Islam Asbijani pernah mengalami kegoncangan jiwa atau patah semangat dalam belajar, selama dua belas tahun karena terjadi perubahan pemerintahan di negerinya. Kemudian beliau keluar bersama temannya untuk belajar bersama. Mereka setiap hari duduk untuk belajar bersama. Hal itu mereka lakukan selama dua belas tahun sampai temannya mendapat gelar Syaikhul Islam untuk madzab Syafi'i, karena beliau memang ikut madzah Syafi'i. Imam Qadhikhan berkata, "Sebaiknya menghafalkan satu naskah kitab fiqih untuk selamanya, supaya ia mudah menghafal kitab-kitab fiqih lainnya."

21 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Tentang Kesungguhan dalam Belajar, Ketekunan dan Cita-Cita

Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar, harus tekun. Seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur'an, "Dan orang-orang yang berjihad atau berjuang sungguh-sungguh untuk mencari (keridhaanku), maka benar-benar Aku akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan menuju keridhaan-Ku". Dikatakan barangsiapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu tentu akan mendapatkannya. Dan siapa saja yang mau mengetuk pintu, dan maju terus, tentu bisa masuk.

Dengan kadar sengsaramu dalam berusaha kamu akan mendapat apa yang kamu dambakan. Dikatakan bahwa belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu dibutuhkan adanya kesungguhan dari tiga orang, kesungguhan murid, guru dan ayah bila masih hidup.

Ustadz Sadiduddin mengalunkan syair gubahan Imam Syafi'i kepadaku,
"Kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh, dan bisa membuka pintu yang terkunci. Sungguh sangat banyak orang yang bercita-cita luhur bersedih, karena diuji dengan kemiskinan. Barangkali sudah menjad i suratan takdir dan keputusan Allah, bahwa banyak orang cerdas tapi miskin dan banyak orang bodoh yang kaya raya. Dan kedua hal tersebut tidak bisa dikumpulkan."

Penyair yang lain berkata,
"Kamu ingin menjadi orang ahli fiqih, tapi tak mau sengsara, itu artinua kamu gila. Mencari harta pun tidak akan berhasil tanpa kerja keras, dan harus tahan menghadapi penderitaan. Begitu juga mencari ilmu tidak akan berhasil tanpa kerja keras (sengsara)."

Abu Thoyyib berkata
"Sungguh naif orang yang mampu berusaha tapi tidak mau berusaha secara optimal."

Santri tidak boleh banyak tidur pada malam hari. Seperti dikatakan dalam syair, "Kemuliaan itu akan tercapai menurut kadar kesengsaraan. Barangsiapa ingin mencari kemuliaan, maka harus menginggalkankan tidur malam. Kamu ingin berkedudukan tinggi tapi kamu enak-enak tidur pada malam hari. Padahal orang yang mencari permata pun harus menyelam ke dalam lautan. Derajat yang luhur itu seiring dengan cita-cita yang luhur. Orang yang memperoleh kedudukan tinggi karena ia berjaga malam. Aku tidak tidur di waktu malam, ya Tuhanku, demi mencari keridhaanmu Ya Tuhan yang menjadikan seseorang menjadi tuan. Siapa ingin kedudukan tinggi tapi tidak mau kerja keras, itu artinya dia menyia-nyiakan usia. Mengharap sesuatu yang mustahil. Maka tolonglah kami, Ya Allah, dalam mencari ilmu dan tempatkanlah kami kepuncak kedudukan yang luhur." Para santri harus menggunakan waktu malam untuk belajar dan ibadah, supaya memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya.

Penyusun kitab ini berkata: Bagiku, cukup menarik makna syair yang berbunyi, "Barangsiapa ingin meraih apa yang dicita-citakan, maka ia harus menjadikan waktu malamnya sebagai kendaraan untuk mengejar cita-citanya. Jangan banyak makan agar kamu tidak ngantuk. Hal itu jika Anda benar-benar ingin menggapai kesempurnaan."

Santri harus mengulang-ulang pelajarannya pada awal malam dan akhir malam. Yaitu antara Isya' dan waktu subuh, karena saat-saat tersebut diberkati.

Seorang penyair berkata, "Wahai para penuntut ilmu hiasilah dirimu dengan sifat wara' (menjauhi barang syubhat), jauhilah tidur, kurangilah makan, dan tekunlah belajar."

Para pelajar harus memanfaatkan masa mudanya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Perhatikan bait syair ini, "Dengan kadar kerja kerasmulah kamu akan diberi apa yang menjadi cita-citamu. Orang yang ingin sukses, harus sedikit mengurangi tidur malam. Gunakan masa mudamu sebaik-baiknya, karena masa muda adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang."

Seorang santri tidak boleh memaksakan diri hingga melebihi kekuatannya. Karena akan melemahkan tubuhnya, sehingga tidak mampu bekerja terlalu lelah. Mencari ilmu itu harus sabar. Pelan-pelan tapi kontinyu, sabar inilah pokok yang penting dari segala sesuatu.

Rasulullah SAW. bersabda, "Ketahuilah bahwa agama ini kukuh (banyak tugas), maka terlibatlah dalam urusan agama dengan pelan-pelan dan janganlah kamu buat dirimu bosan beribadah kepada Allah, karena orang yang mematahkan kendaraannya, tidak akan bisa menempuh perjalanan, bahkan akan kehilangan kendaraannya."

Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Badanmu adalah tungganganmu, maka kasihanilah padanya."

Santri harus bercita-cita tinggi, sebab orang itu tinggi derajatnya karena memang ia bercita-cita tinggi. Cita-cita itu ibarat sayap burung yang dipergunakan untuk terbang tinggi-tinggi. Abi Thayib berkata: "Kedudukan seseorang itu tergantung menurut cita-citanya. Dan kemuliaan akan tergapai oleh seseorang kalau cita-citanya tinggi dan mulia. Pangkat yang tinggi akan terasa berat meraihnya bagi orang yang berjiwa kerdil. Tapi bagi orang yang berjiwa besar, setinggi apa pun sebuah kedudukan, dianggap kecil atau ringan."

Modal paling pokok ialah kesungguhan. Segala sesuatu bisa dicapai asal mau bersungguh-sungguh dan bercita-cita luhur. Barang siapa bercita-cita ingin menguasai kitab-kitab Imam Muhammad bin Al Hasan, asal disertai dengan kesungguhan dan ketekunan, tentu dia akan menguasai seluruhnya, paling tidak sebagian.

Jika ada yang bercita-cita ingin pandai, tapi tidak mau bersungguh-sungguh dalam belajar, tentu dia tidak akan memperoleh ilmu kecuali sedikit.

Syaikh Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya, Makarimul Akhlak bahwa raja Zulqurnain ketika hendak pergi untuk menguasai Timur dan Barat, terlebih dahulu dia berunding dengan orang-orang yang bijaksana, dia berkata, "Bagaiamana aku harus pergi untuk mengejar kedudukan ini, sementara dunia ini amat sedikit dan segera sirna, dan kerajaan dunia, menurutku sangat remeh, dan bukan tergolong cita-cita yang luhur." Orang-orang bijaksana itu berkata, "Pergilah supaya kamu memperoleh kerajaan dunia dan akhirat." Dia menjawab, "Jika demikian, baiklah."

Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mencintai sesuatu yang luhur atau tinggi dan membenci sesutu yang rendah." Dikatakan oleh seorang penyair, "Janganlah kamu tergesa-gesa ingin mencapai sesuatu tapi cobalah terus bersabar (ulet), karena sabar itu ibarat air yang dapat melunakkan tongkat dari besi."

Dikatakan: Abu Hanifah berkata kepada Abi Yusuf, "Kami memang bodoh tapi itu bisa kamu usir dengan terus menerus belajar. Jauhilah sifat malas, sebab malas itu sumber keburukan dan kerusakan yang amat besar."

Syaikh Abu Nash Ash-Shaffar berkata dalam syairnya. "Oh jiwaku.. oh jiwaku, jangan menunda amal saleh, berbuat adil, dan berbuat ihsan, semua orang yang berbuat kebaikan akan senang, sebaliknya orang pemalas berada dalam bencana dan kesialan."

Syair tersebut semakna dengan perkataan Imam Mushannif, "Wahai jiwaku, tinggalkanlah bermalas-malasan dan menunda-nunda supaya kamu tidak menetap di dalam kehinaan. Aku tidak melihat bagian yang diberikan kepada para pemalas kecuali penyesalan karena gagal meraih cita-cita."

Dikatakan: "Penderitaan, kelemahan, dan penyesalan yang diderita manusia sering timbul dari rasa malas. Oleh karena itu jauhilah rasa malas, dan membicarakan hal-hal yang tidak jelas."

Disebutkat: Sungguh sifat malas itu timbul karena kurang perhatian terhadap keutamaan dari pentingnya ilmu. Oleh karena itu, santri harus berpayah-payah dalam menuntut ilmu.

Karena ilmu itu kekal, sedang harta benda akan sirna. Sebagaimana dikaakan Al bin Abi Thalib ra., "Aku senang menerima pemberian Tuhan Maha Perkasa. Kita diberi ilmu, dan musuh-musuh kita (orang-orang kafir) diberi harta benda. Karena harta akan segera sirna, sedangan ilmu itu abadi takkan pernah hilang."

Ilmu yang bermanfaat akan tetap dikenang sekalipun orang yang berilmu itu meninggal, karena ilmu yang bermanfaat itu abadi. Syaikh Murghinan berkata dalam sebuah syair, "Orang bodoh hakikatnya mati sebelum mati, dan orang yang berilmu tetap hidup sekalipun sudah mati."

Syaikh Burhanuddin berkata, "Orang bodoh itu mati sebelum mati. Tubuhnya ibarat kuburan bagi jiwanya. Sedangkan orang yang berilmu itu selamanya hidup, sekalipun tulangnya hancur dikalang tanah."
"Orang-orang bodoh itu mati, sekalipun dia berjalan-jalan di muka bumi ini. Keberadaan mereka sama dengan tidak ada atau tidak diperhitungkan."

Syaikh Burhanuddin berkata, "Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi melebihi ilmu, golongan manusia yang paling tinggi derajatnya adalah golongan manusia yang paling berilmu. Orang yang berilmu itu abadi karena dikenang orang, sedangkan orang yang bodoh, bila mati, tak ada yang mengenang."

"Kedudukan orang berilmu jauh lebih tinggi daripada raja dan panglima. Aku akan menerangkan keunggulan ilmu kepada kalian. Ketahuilah, ilmu itu laksana cahaya terang yang sempurna yang dapat menerangi jalan orang bodoh di sepanjang masa, orang yang berada dalam kebodohan. Ilmu itu laksanan puncak gunung yang tinggi yang dapat meneyelamatkan manusia dari bahaya banjir."

"Dengan ilmu orang akan selamat dari siksa akhirat. Sedangkan orang yang meremehkan ilmu akan menyesal di akhirat. Orang berilmu (ulama) dapat memberi syafaat kepada orang yang berlaku maksiat ketika ia digiring menuju jurang neraka. Orang yang mencari ilmu, berarti dia mencari segala-galanya. Dan orang yang memperoleh ilmu, berarti dia telah mencapai segalanya. Karena ilmu itu kedudukannya lebih luhur dari segala yang luhur. Renungkan hal ini, wahai para pelajar. Jika kamu telah memperoleh ilmu, maka jangan risau bila kamu gagal meraih kedudukan dunawi yang lain. Dan jangan cemas bila kamu tidak memiliki harta dunia dan kenikmatannya. Karena sebaik-baik pemberian adalah ilmu agama Islam. Terutama ilmu fiqih."

Sebagian ulama berkata, "Ilmu fiqih itu ilmu yang paling berharga yang sepatutnya kamu pelajari. Siapa yang mempelajari ilmu, maka tak akan habis kebanggaan ilmunya. Maka berjuanglah atau bersungguh-sungguhlah mempelajari sesuatu yang belum kamu ketahui."

Karena ilmu itu membawa keuntungan di dunia dan di akhirat. Lezatnya mempelajari ilmu fiqih dapat mendorong akal untuk memperoleh ilmu-ilmu yang lain. Rasa malas itu kadang timbul dari dahak dan karena kebanyakan kadar air. Cara menanggulanginya dengan mengurangi makan.

Tujuh puluh nabi telah sepakat bahwa lupa itu disebabkan kebanyakan dahak. Banyak dahak karena banyak minum. Dan banyak minum karena banyak makan. Roti kering dapat menghilangkan dahak. Makan anggur kering juga dapat menghilangkan dahak, tapi jangan banyak supaya tidak haus. Kalau banyak minum malah menambah dahak.

Bersiwak juga dapat mengurangi dahak, dapat menguatkan hafalan, dan menyebabkan fasih. Bersiwak itu hukumnya sunnah. Dapat menambah pahala salat dan pahala membaca Al-Qur'an. Muntah juga dapat mengurangi dahak dan kadar air.

Adapun cara mengurangi makan adalah dengan cara memikirkan manfaat makan sedikit itu, yaitu dapat menyehatkan badan, menumbuhkan sifat wara', dan sikap mengalah. Ada yang berkata, "Tercela, tercela, dan tercela orang yang celaka karena makanan."

Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Ada tiga kelompok manusia yang dimurkai oleh Allah tanpa dosa, yaitu orang yang banyak makan, orang kikir, dan orang yang sombong."

Termasuk cara mengurangi makan ialah memikirkan bahayanya banyak makan, yaitu mudah terserang penyakit dan mengakibatkan bebalnya otak, termasuk malas. Dikatakan, perut yang penuh itu dapat menghilangkan kecerdasan.

Jalianus berkata, "Buah delima seluruhnya berguna, sedang ikan, seluruhnya membahayakan. Sedikit makan ikan lebih baik daripada banyak makan delima. Dan banyak makan itu pemborosan. Makan terlalu kenyang itu membahayakan. Dan bahkan karena banyak makan orang akan menerima siksa di akhirat. Orang yang banyak makan biasanya tidak disukai teman."

Cara mengurangi makan itu di antaranya adalah dengan mengurangi makanan yang berlemak. Jangan makan bersama orang-orang yang lapar. Boleh banyak makan kalau ada tujuan yang benar, misalnya supaya kuat berpuasa, supaya kuat salat, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

14 April 2018

Ta'lim Muta'allim - Hakikat Ilmu, Fikih dan Keutamaannya

Rasulullah SAW. bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan."

Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, "Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku." Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama Islam, salat misalnya.

Setiap orang Islam diwajibkan menuntut ilmu yang berkaitan dengan apa yang diperlukannya saat itu, kapan saja. Oleh karena setiap orang Islam mengetahui rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya salat, supaya dapat melaksanakan kewajiban salat dengan sempurna.

Setiap orang Islam wajib mempelajari atau mengetahui rukun maupun syarat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah atau perantara tersebut huumnya wajib. Ilmu agama adalah wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.

Muhammad bin Al Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, "Aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli." Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal haramnya) dalam berdagang.

Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui tata cara berdagang dalam Islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang Islam juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan.

Todak ada seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga dimiliki binatang. Dengan ilmu pengetahuan, Allah Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam AS. di atas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat diperintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam AS.

Ilmu itu sangat penting karena ia sebagai perantara (saran) untuk bertakwa. Dengan takwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat di sisi Allah, dan keuntungan abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah dalam syairnya:

"Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna." Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa, ilmu paling lurus untuk dipelajari. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Ia laksana benteng yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara' lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu orang ahli ibadah tapi bodoh.

Setiap orang Islam juga wajib mengetahui atau mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, lancing, sombong, rendah hati, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil (terlalu hemat) dan sebagainya.

Karena sifat sombong, kikir, penakut, israf hukumnya haram. Dan tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu setiap orang Islam wajib mengetahuinya.

Asy-Syahid Nasyiruddin telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut sangat bermutu, dan perlu dibaca. Karena setiap orang Islam wajib memelihara akhlaknya.

Adapun mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat-saat tertentu seperti salat jenazah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu daerah sudah ada orang yang telah mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari kewajiban.

Tapi bila di satu derah tak ada seorang pun yang mempelajarinya, maka semua penduduk daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib menyuruh rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut. Pemerintah berhak memaksa mereka untuk melaksanakannya.

Dikatakan bahwa mengetahui atau mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu 'ain itu ibarat makanan yang dibutuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh setiap orang, dan penggunaannya pun sewaktu-waktu tertentu.

Sedangkan mempelajari ilmu nujum (ilmu nujum dalam arti ilmu astrologi, yakni ilmu perbintangan yang dihubungkan dengan nasib manusia) itu hukumnya haram, akrena ia diibaratkan penyakit yang sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka, karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari takdir Tuhan.

Oleh karena itu, setiap orang Islam seyogianya mengisi seluruh waktunya dengan berzikir kepada Allah, berdoa, memohon seraya merendahkan diri kepada-Nya, membaca Al-Quran, dan bersedekah supaya terhindar dari mara bahaya.

Boleh mempelajari ilmu nujum (ilmu falak, ilmu nujum dalam arti astronomi, yaitu ilmu oerbintangan yang digunakan untuk mengetahui arah posisi bintang, untuk kepentingan ilmu pengetahuan, ilmu astronomi boleh dipelajari, bahkan sangat dianjurkan) untuk mengetahui arah kiblat, dan waktu-waktu salat.

Boleh pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung, dan sebagainya. Karena Nabi juga pernah berobat.

Imam Syafi'i Rahimahullah berkata, "Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu fiqih untuk mengetahui hukum agama, dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan."

Ilmu tafsir ialah yang digunakan untuk menafsir atau menyingkap ayat-ayat Al-Qur'an dengan sempurna. Dengan ilmu tafsir seseorang mampu mengungkap atau mengetahui maksud ayat-ayat Al-Qur'an. Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum agama, secara rinci. Abu Hanifah berkata, "Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui mana yang berguna bagi seseorang dan mana yang membahayakannya."

Beliau juga berkata, "Tidak ada ilmu kecuali untuk diamalkan, sedangkan mengamalkannya berarti meninggalkan dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat."

Oleh karena itu, setiap orang Islam hendaknya tidak melupakan hal-hal yang bermanfaat, dan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat. Maka itu dia harus belajar ilmu yang bermanfaat, dan menauhi ilmu yang tidak berguna, agar akal dan ilmunya tidak membahayakan dirinya. Aku berlindung kepada Allah dari siksa dan murka-Nya.

Banyak ayat-ayat Al-Qur'an, dan hadis-hadis nabi yang sahih yang menerangkan keutamaan ilmu, namun tidak saya cantumkan seluruhnya, supaya kitab ini tidak terlalu tebal.

Tentang Saya

Foto saya
Memiliki nama asli Nur Halida, semoga Allah mengampuni dosanya. Dimulai dengan suka membaca didukung dengan kepribadian introvert, lebih mudah mengungkapkan apa yang dipikirkan lewat tulisan. "Suatu saat raga kan menghilang, tulisan yang kan jadi kenangan"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.